Bismillahirrahmanirrahim
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya;
Abu Bakr bin Ishaq menuturkan kepada saya. Dia berkata; ‘Affan menuturkan kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, “Ada seorang arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dia berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan maka aku akan masuk surga.” Maka beliau menjawab, “Yaitu kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun, kamu dirikan shalat wajib, kamu tunaikan zakat yang harus dikeluarkan, dan kamu berpuasa Ramadhan.” Dia berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Aku tidak akan menambah apa pun atas kewajiban ini selamanya, dan aku juga tidak akan menguranginya.” Ketika dia berpaling, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barangsiapa yang ingin melihat seorang lelaki di antara penduduk surga, maka lihatlah orang ini tadi.” (HR. Muslim [14] Syarh Nawawi, 2/14)
Hikmah:
Barangsiapa yang menginginkan Surga hendaknya mencari tahu bagaimana meraihnya, seperti yang telah dicontohkan oleh seorang Arab badui pada hadist tersebut. wallahua’lam
Selengkapnya...
FEEDJIT Live Traffic Feed
Surga Tempat Tujuan
Selasa, 01 September 2009Diposting oleh Kampoeng di 01.57 0 komentar
Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.
Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Alloh berfirman, “Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120). Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an Alloh memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (Al Mumtahanah: 4)
Perhatikanlah, Ibrohim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Alloh dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6). Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.
Alloh juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al Ahzab: 21). Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Alloh, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.
Patuh Terhadap Perintah Alloh
Nabi Ibrohim adalah seorang yang sangat patuh kepada Alloh, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, hamba Alloh yang paling taat. Alloh berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (Az Zumar: 9)
Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Alloh (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid). Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrohim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120). Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.
Diposting oleh Kampoeng di 01.43 0 komentar
Seindah ♥ Wanita Perindu Surga
Jumat, 21 Agustus 2009Malam sudah semakin larut, kebanyakan manusia sibuk dibuai mimpi dan kehangatan selimutnya, hawa dingin yang menusuk membuat manusia semakin merapatkan diri kepada bantal dan gulingnya, malam memang masih panjang, masih sempat meraih impian indah yang belum mampu dia nyatakan di dunia nyata, apalagi suara gerimis yang tiada putus menerpa atap rumah dan angin malam yang berhembus melalui saluran ventilasi rumah membuai telinganya laksana buaian ibu kepada anaknya, senyum yang terkembang oleh rasa nyaman balutan selimut tebal memberitahukan bahwa seorang laki-laki yang selalu berusaha memperbaiki ibadahnya bisa juga terlena dalam kenikmatan duniawi ini...
Namun semua itu terusik dengan rasa dingin percikan air yang menerpa wajahnya, kembali dia berpaling ke arah lain untuk menghindari percikan air itu, di arah itu pula ia mendapati percikan air kembali terasa di kulit wajahnya, membasahi pori-pori pipinya, mengusik impian yang tadi indah, bayangan impian semu itu perlahan menjauh dan suara yang lembut dan samar tertangkap telinganya, suara yang tidak asing baginya namun begitu merdu terdengar di telinganya, perlahan laki-laki ini membuka matanya dengan berat, enggan tersirat untuk melepas mimpinya, namun senyum yang teramat indah tergambar di depan wajahnya, belaian tangan yang lembut membelai pipinya, kehangatan tangan yang penuh kasih sayang itu dipegangnya, diletakkannya pada dadanya, kembali suara lembut itu terdengar,
“Wahai suamiku, bangunlah! Tegakkan sholat kepada Allah, semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu.”
Merdu terdengar pendengarannya dan mengisi relung hatinya, membasahi kekeringan dan kehampaan mimpi-mimpi yang diraihnya tadi, laki-laki itu menguatkan diri untuk membuka dengan kuat matanya yang berat, senyumnya terkembang, dan dihadapannya terbentang senyum yang membuat hari-harinya menjadi indah. Suara lembut itu berujar kembali,
“Bangunlah, sudah kusiapkan minuman hangat untukmu, kemudian ambillah air wudhu.”
Ya Allah, mampukah kulepas senyum itu dalam hidupku, hati laki-laki itu berguman dalam langkahnya menuju minuman hangat yang telah siap untuknya. Seteguk susu coklat kental hangat membasahi tenggorokannya yang kering, mungkin karena dengkurnya dalam tidur tadi. Dia tersenyum demi mengingat perkataan wanita yang sudah mengisi hari-harinya beberapa tahun ini.
“Apakah engkau tidak terganggu dengan suara dengkurku setiap malam?”
Dengan tersenyum lembut wanita itu menjawab,”Wahai suamiku, mana ada dengkuran yang merdu? Semua orang mendengkur dengan cara dan suara yang sama, dan aku yakin itu bukan sebuah kesengajaan, mana mungkin aku mencelanya?” Senyumnya kian terkembang demi melihat wajah laki-laki itu yang memandang dengan pandangan heran, tangan mungilnya mencubit mesra pada pipi laki-laki itu."
....
Hari beranjak kian pagi, wanita itu duduk terdiam dengan wajah tertunduk di belakang laki-laki yang dipanggilnya suami sedang membaca al Qur’an, suara yang sangat pas-pasan itu didengarkannya dengan khusyu’ kadang dia tak tahu kalau laki-laki itu menoleh memandangnya di tengah istirahatnya. Kadang kadang tersirat sebuah bisikan buruk dalam hatinya,”Mungkin dia tertidur karena lelah bangun dini hari tadi.” Namun bisikan itu salah. Setelah bacaannya terhenti beberapa lama wajah wanita itu terangkat, dan lagi-lagi senyum itu terkembang dan berujar,”bacaan yang bagus, andaikata saya bisa membaca sebagus itu.”
Alhamdulillah shalat subuh sudah ditunaikan, persiapan untuk kehidupan dunianya pun dipersiapkan, kadang ada yang terlupa, maka wanita disebelahnya mengingatkannya, maklum, mungkin dengan bertambahnya usia laki-laki itu ingatannya semakin lemah, atau mungkin terlalu banyak pikiran? Bahkan kadang untuk hal makan saja laki-laki itu sering bertanya,”Apakah aku sudah makan siang ini? Apakah aku sudah makan malam ini?” Alhamdulillah ada seseorang yang selalu menemaninya dan mengingatkan segala hal yang dia lupakan, yang dengan setia menemaninya, sabar terhadap perlakuan laki-laki yang dicintainya, walau laki-laki itu sadar kadang tidak semua perlakuannya bisa dibilang menyenangkan kepada wanita itu.
Wanita yang dipinangnya walau dengan rasa enggan dari orang tuanya, wanita yang bersedia menerima rasa benci orang tuanya akan akidah suaminya, dia tunduk akan kebenaran manhaj salaf yang diajarkan laki-laki yang dicintainya itu. Bukan karena terbutakan rasa cinta belaka, namun karena hati yang terbukakan oleh hidayah Allah, dengan tanpa berat hati ia menjawab dengan tegas,”Aku pasti akan memilih suamiku dan jalan yang ditempuhnya.” Itu dijawabnya ketika laki-laki yang dicintainya bertanya tentang pilihan antara orang tua dan dirinya.
Entah sebuah pertanyaan seperti apa itu, mungkin karena melihat kondisi bahwa keluarga besar wanita itu membenci akidah salaf yang diyakini suaminya. Walaupun, Alhamdulillah sikap permusuhan itu tidak ditampakkan secara lahir, mungkin juga karena akhlak yang ditampakkan laki-laki itu pada keluarganya, sikap lemah lembut kepada yang lebih tua dan belum mengetahui akidah Islam yang benar. Laki-laki itu selalu berdo’a agar kelak diberikan kemenangan atas keluarga wanita yang dipanggilnya istri itu, sebuah harapan besar yang selalu dinantikannya. Sebagaimana yang dijanjikan Allah sebagai ath Tha’ifah al Manshurah.
Sebuah pengorbanan besar yang diberikan seutuhnya kepada laki-laki dimana wanita itu mengharapkan dan merindukan surga Allah bersama suaminya, laki-laki yang sudah menyampaikan sebuah kebenaran dalam hatinya, menerangi kegelapan yang dulu ada, mengusir kegelisahan yang menghuni dalam hatinya. Walau dalam hatinya dia yakin dan mengikhlaskan kelak suaminya akan menduakan dirinya dengan berpoligami. Hanya ridha Allah semata yang dia nantikan, dia berkata kepada suaminya,” Kecemburuan itu ada wahai suamiku, namun bagaimana mungkin aku tidak ridha sedangkan Allah ridha terhadapnya?” Wajahnya tertunduk dan berharap,”Maka bantulah aku dalam kecemburuan itu, didiklah diriku sebaik mungkin yang engkau mampu, antarkan aku kepada ridha Allah dalam do’a-do’amu, dan penuhi sikap lemahku sebagai wanita dengan kebijakan yang engkau miliki.”
Dalam perjalanan laki-laki itu ke tempatnya bedagang setiap hari masih terngiang ucapan wanita itu dalam benaknya,”Wahai suamiku, engkau adalah nahkoda dalam bahtera ini, dan diriku mengikuti arah yang engkau tentukan selama Allah mengizinkan, maka gunakan ilmu yang engkau miliki dalam menjalankan bahtera ini, sampai atau tidaknya bahtera ini ke tujuan yang kita impikan sebagian besar engkau yang memegang kendalinya, insya Allah aku akan membantumu semampu yang aku bisa berikan kepadamu.”
“Wahai suamiku, hati kita ini lemah tanpa bimbingan Allah, maka berusahalah untuk selalu berada dalam bimbingannya, katakan apa yang tidak engkau sukai dan apa yang engkau senangi dari diriku, aku akan berusaha memenuhinya sebagai istrimu. Jika engkau sedang tidak ridha kepadaku maka tegurlah aku dengan lembut, karena hati seorang wanita sangatlah rapuh.”
Hati laki-laki itu tersentuh dengan perkataan yang begitu lembut, kadang air mata laki-laki itu tak sengaja mengalir demi melihat keikhlasan hati istri yang dicintainya itu, namun semua itu disembunyikannya karena takut terlihat wanita yang yang turut menyempurnakan separuh dari agamanya itu.
Lelah rasanya berkutat hingga siang hari, tenggelam dalam kehidupan dunia. Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan untuk shalat berjama’ah, panas terik dilaluinya dengan berjalan bersama teman-temannya, laki-laki itu menuju masjid untuk menunaikan kewajibannya, dipintu masjid disampaikannya salam kepada seisi penghuni masjid itu. Dalam do’anya disampaikannya keinginan tentang kehidupan akhirat dan dunianya, harapan menjadikan istrinya menjadi istri yang shalihah, dan dijadikan anak-anak yang membuat indah pandangannya menjadi anak-anak yang shalihah pula. Terbayang senyum lembut istrinya dalam do’anya.
Sesampainya laki-laki itu di depan pintu rumahnya, senyum indah terkembang menyambutnya, dijawabnya salam laki-laki itu dengan baik dan lengkap, diletakkannya barang-barang bawaan suaminya pada tempatnya. Makanan sudah tersedia, tak sengaja laki-laki itu pulang agak terlambat dari jadwal seharusnya, namun wanita itu ikhlas menahan lapar agar bisa makan menemani suaminya.
Sebuah bahtera rumah tangga kadang ada riak kecil yang muncul dan mewarnai perjalanannya, kadan riak itu berubah menjadi ombak yang mengancam keutuhan bahtera, namun ketangguhan asisten nahkoda mempertahankan perjalanan yang kadang hampir kandas oleh karang dan tenggelam dalam jurang penyesalan yang tiada berujung.
Kelembutannya, perilakunya diaturnya sedemikian rupa agar tidak membuat hati laki-laki yang dicintainya itu marah. Dan jika laki-laki itu marah maka tertunduk kepalanya menerima perkataan suaminya dengan lapang dada, ditunggunya sampai kemarahan laki-laki itu reda, dia memahami, mungkin laki-laki yang dicintainya itu memiliki banyak sesuatu yang harus dipikirkannya, dan belum mau membaginya bersamanya, walau dengan pandangan lembut penuh cinta hatinya seakan berkata,”
“Janganlah bersedih suamiku, kesedihanmu adalah kesedihanku, sakit di hatimu terasa sakit pula terasa dalam diriku, murungnya wajahmu seperti mendung dalam istanaku, kemana senyum ceria yang selama ini membuatku gembira?”
Hingga malam datang menjelang, hati yang gundah perlahan mereda, kegelisahan tertutupi oleh bacaan Al Qur’an, air mata kali ini bukanlah untuk penyesalan, sebersit kegembiraan hadir dalam hatinya demi mendapati istrinya mengusap lembut rambutnya, kecupan kecil dia dapatkan di keningnya, suara lembut dan lirih dibisikkan ke telinganya, serasa bergetar seluruh tubuh laki-laki itu oleh kesenduan bisikan lembutnya,”Wahai suamiku, bersabarlah karena Allah, Demi Allah, Dia tidaklah memberimu beban yang engkau tidak mampu memikulnya, kesedihan di dunia hanyalah sementara, pasti akan ada akhirnya, apapun yang engkau hadapi, aku akan ada selalu berada disampingmu sebagai kekasihmu, tidak akan kubiarkan engkau bersedih sendirian sedang aku jauh darimu, bukankah kita sudah melewati banyak masa bersama?”
“Wahai suamiku, ketika engkau marah tadi telah kusiapkan air wudhu bagimu, namun aku enggan untuk mengusikmu dan membuatmu tidak ridha kepadaku, namun mungkin engkau tidak melihatnya sehingga engkau melewatkannya, maafkan kelemahanku karena tidak mengingatkanmu.”
“Wahai suamiku, jika ada perbuatan dan perkataanku ada yang membuatmu tidak ridha kepadaku maka ingatkanlah aku dan hukumlah aku, sungguh aku sangat mengharapkan senyum manis itu muncul kembali dari bibirmu, bukankah malam telah menjelang dan kelelahan tergantikan oleh kasih sayang?”
Hari-haripun berlalu, tawa dan canda serta rayuan mesra menghiasi kamarnya, tidak ia mendapati wanita itu memakai wewangian yang memikat kecuali di atas tempat tidurnya, kadang hati laki-laki itu berdebar kencang demi melihat wajah istrinya terias cantik dengan indahnya, mungkin kadang karena kesibukannya ia jarang memperhatikan kecantikan paras wajah istrinya. Dibisikkan ditelinganya kata-kata mesra yang membuatnya semakin tertarik untuk memetik sekuntum mawar merah yang harum semerbak.
Di ujung malam mengantar rasa kantuk pada diri laki-laki itu sebuah ucapan lirih disampingnya mengisi relung hatinya,”Wahai suamiku, antarlah aku menuju surga bersamamu, sungguh ingin aku selalu disampingmu di dunia ini dan di akhirat kelak, hati ini yang rapuh merindukan selalu nasihat-nasihatmu, bawalah aku bersamamu dalam ridha Allah, cita-citamu adalah keinginanku, kebahagiaanmu adalah pelangi dalam rumah ini, senyum di bibirmu adalah kupu-kupu dalam taman kasih sayangmu kepadaku, keridha-an dirimu atas diriku adalah embun yang membasahi hati ini, hari-hari di dunia boleh berakhir kapanpun Allah menghendaki, namun aku mengharapkan hari-hari itu kelak akan terisi bersamamu di surga kelak, Insya Allah.”
Malam pun semakin larut, sebaris do’a mengantarkan terkatupnya mata menuju tidur indahnya, kegelisahannya hilang sudah, terlintas dalam keremangan cahaya lampu tangan yang lembut menggenggam tangan kekarnya, menggenggam dengan begitu erat seakan enggan untuk dilepaskan lagi, genggaman yang menyiratkan menyatunya dua hati beserta keinginan kuat bersama untuk selamanya, Insya Allah.
"Semoga Allah merahmatimu wahai istriku, apa yang kuberikan kepadamu mungkin belum cukup mengimbangi bakti dan kebaikanmu pada diriku."
Untuk istriku Ummu Fulanah
****
Note: Tulisan di atas adalah goresan pena seorang suami yang begitu mencintai, menghormati dan bangga akan istrinya. Semoga bagi para wanita dapat mengambil pelajaran dari kisah nyata di atas :)
Selengkapnya...
Diposting oleh Kampoeng di 02.55 0 komentar
Singgah Di Taman Surga
Selasa, 18 Agustus 2009Dari Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “jika kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqoh-halaqoh dzikir.” (HR. at-Tirmidzi dan lain-lain)
Apakah yang dimaksud dengan halaqoh dzikir? Para Ulama menyebutkan
makna halaqoh dzikir ada beberapa macam yaitu :
Pertama, sekelompok orang yang duduk bersama disuatu tempat kemudian masing-masing berdzikir sendiri-sendiri dengan suara pelan.
Makna ini didasarkan pada hadits Mu’awiyah rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di kitab shahihnya bahwa Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu halaqoh para sahabat. Kemudian beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian duduk (disini)?”
Para sahabat menjawab, “Kami duduk berdzikir kepada Alloh.” Beliau bertanya lagi, “Demi Alloh, apakah kalian duduk (disini) hanya karena hal itu (dzikir)?” Para sahabat menjawab, “Demi Alloh, tidak ada yang menyebabkan kami duduk (disini) kecuali karena hal itu.”
Beliau bersabda , “Sesunggunya aku tidaklah meminta kalian bersumpah karena aku menyangka kalian berbohong. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku bahwa Alloh membanggakan kalian kepada malaikat.”
Di dalam hadits tersebut ada isyarat bahwa mereka berdzikir dengan suara pelan yaitu dari pertanyaan Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam kepada orang-orang yang berdzikir tersebut. Seandainya mereka berdzikir dengan suara keras, tentunya Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam akan mengetahui dan tidak bertanya lagi.
Dalil lain adalah dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu bahwa beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir bersama-sama dengan pengingkaran yang sangat keras.
Kedua, duduk bersama-sama untuk membaca dan mempelajari al-Quran.
Yaitu salah seorang membaca dan lainnya mendengarkan. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul didalam salah satu rumah diantara rumah-rumah Alloh, mereka membaca kitab Alloh dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, dan Alloh menyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapan-Nya.”
Ketiga, majelis ilmi yaitu yang membahas ilmu-ilmu agama, membahas tentang halal dan haram dan lainnya.
Berdasar hadits dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallohu’anhu bahwa ketika Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam sedang duduk dalam masjid bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang menghampiri Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan yang seorang pergi. Orang yang pertama melihat ada celah pada halaqoh lalu duduk disana. Orang yang kedua duduk di belakang mereka (di belakang halaqoh). Sedangkan orang yang ketiga berpaling dan pergi. Setelah Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam selesai, beliau bersabda, “Maukah akuberitahu kliantentang tiga orang tadi? Adapun salah satu dari mereka, dia mendekat kepada Alloh maka Alloh-pun mendekatkannya. Adapun yang lain, dia malu, maka Alloh-pun malu kepadanya. Dan yang lain lagi dia berpaling, maka Alloh-pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly berkata, “Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis ilmu yang diadakan di rumah-rumah Alloh untuk belajar, mengajar dan mencari pemahaman tentang agama.” Beliau juga berkata, “Majelis dzikir yang dicintai oleh Alloh adalah majelis-majelis ilmu, bersama-sama mempelajari al-Quran dan as-Sunnah dan mencari pemahaman tentang hal itu.”
Itulah yang dimaksud dengan halaqoh dzikir yang merupakan tama-taman surga, yaitu sekelompok orang yang berdzikr di suatu tempat dengan dzikir dan tatacara yang diajarkan Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam atau berkumpul untuk mebaca dan mempelajari al-Quran atau berkumpul untuk mempelajari ilmu agama.
Bagaimana dengan kita ? Sukakah kita singgah di taman-taman surga ? jika iya, mudah-mudahan kelak kita akan menjadi salah seorang penduduk surga-Nya. Jika belum, semoga Alloh memberikan hidayah sehingga kita diberi kekuatan untuk menghampiri taman-taman surga dan menyusul mereka yang telah singgah didalamnya.
Ditulis dari : Majalah Tashfia 03/I/2006
Selengkapnya...
Diposting oleh Kampoeng di 20.30 1 komentar
Sifat Ahli Surga

Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ غَيْرَ بَعِيْدٍ. هَذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيْظٍ. مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيْبٍ
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yg dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada tiap hamba yang selalu kembali lagi memelihara. (Yaitu) orang yg takut kepada Dzat Yang Maha Pemurah padahal Dia tdk kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat” (Qaaf: 31-33)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Ia mendekatkan Al-Jannah kepada orang-orang yang bertakwa dan bahwa para penghuninya adalah yang memiliki empat sifat berikut ini:
1. Awwab yakni selalu kembali/bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari mendurhakai-Nya kepada menaati-Nya dan dari lalai mengingat-Nya menuju ingat kepada-Nya.
‘Ubaid bin ‘Umair mengatakan: “Al-Awwab adalah yang mengingat dosa lalu beristighfar darinya.”
Sa’id bin Al-Musayyib mengatakan: “Al-Awwab adalah orang yg berdosa lantas bertaubat kemudian jatuh dlm dosa lagi lalu bertaubat lagi.”
2. Hafizh, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yakni menjaga apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala amanahkan kepada dan Dia wajibkan atasnya.”
Qatadah mengatakan: “Menjaga apa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan kepada berupa hak-Nya dan kenikmatan.”
Dan ketika jiwa itu punya dua kekuatan; kekuatan untuk menuntut dan kekuatan untuk menahan diri maka sifat awwab menggunakan kekuatan ofensif dlm usaha kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada ridha-Nya dan ketaatan kepada-Nya. Sedang hafiizh menggunakan kekuatan pertahanan utk menahan diri dari maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari larangan-larangan-Nya. Sehingga arti hafizh adalah yang menahan diri dari apa yang diharamkan atasnya. Sedangkan awwab adalah yang menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan ketaatan kepada-Nya.
3. Orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal ia tdk melihat-Nya.
Tersirat di dalam bahwa orang tersebut mengakui dan mengimani ada Allah Subhanahu wa Ta’ala sifat rububiyyah-Nya kemampuan-Nya ilmu-Nya dan penglihatan-Nya terhadap segala keadaan hamba. Dan tersirat pula pada pengakuan dan iman terhadap kitab-kitab-Nya para rasul-Nya perintah dan larangan-Nya. Juga tersirat pada pengakuan dan iman terhadap janji-Nya ancaman-Nya serta pertemuan dengan-Nya. Sehingga tidak sah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal ia tidak melihat kecuali setelah ini semua.
4. Ia datang dgn kalbu yg bertaubat.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Bertaubat dari maksiat-maksiat kepada-Nya menghadap untuk taat kepada-Nya.”
Hakikat taubat adalah ketetapan kalbu untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan cinta kepada-Nya serta menghadap kepada-Nya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan balasan terhadap orang2 yg memiliki sifat ini dgn firman-Nya:
ادْخُلُوْهَا بِسَلاَمٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ. لَهُمْ مَا يَشَاءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ
“Masukilah surga itu dgn aman itulah hari kekekalan. Mereka di dlm memperoleh apa yg mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaaf 34-35)
Selengkapnya...
Diposting oleh Kampoeng di 20.08 3 komentar
Label: heaven
Kunci Surga
Senin, 17 Agustus 2009Ibarat sebuah pintu, surga menbutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu ? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.
Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “
(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih).
Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah pintu surga kita buka ? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga ? Tidak mungkin !
Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.
Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.
Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illalloh itu ? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh ! Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illalloh itu ada delapan, yaitu :
Pertama : Al-‘Ilmu (mengetahui), maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.”
(HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut, tetapi anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.
Kedua : Al-Yaqiinu (meyakini), maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.
(HR. Muslim).
Ketiga : Al-Qobulu (manerima), maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “
(QS. As-Shoffat : 35-36).
Keempat : Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh), maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illalloh dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan tunduklah kepada-Nya. “
(QS. Az-Zumar : 54).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22).
Makna “menyerahkan dirinya kepada Allah” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya (ed.).
Kelima : Ash-Shidqu (jujur atau benar), maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi Sholallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya. “
(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Keenam : Al-Ikhlas (ikhlas atau murni), maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Ketujuh : Al-Mahabbah (mencintai), maksudnya anda harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang di cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya). “
(QS. Al-Baqarah : 165). Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illalloh.(ed,).
Kedelapan : Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya Anda harus mengingkari segala sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak pantas disembah-sembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).
Saudaraku kaum muslimin dari sini dapatlah anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah ! Wallahu a’lamu bish showwab !.
Dinukil dari bulletin Dakwah Al-Bayyinah, edisi 07/02/20, diolah dan disusun kembali oleh Abu Abdirrahman.
(BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 13 / Shafar / 1425)
Sumber : Klik disini
Selengkapnya...
Diposting oleh Kampoeng di 23.49 0 komentar
Exercise Heart take to Heaven
Sabtu, 15 Agustus 2009Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah shallahu'alaihi wasallam
Anas bercerita, “Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah Saw., kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.” Esok harinya, Rasulullah Saw. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.
Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash Ra. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian beliau berkata kepadanya : “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?” kata Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.
Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata: “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah Saw. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”
“Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan.” Kata orang tersbut. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata,
Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.
Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.
Memberikan hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari, sujud dan rukuk di hadapan Allah Swt., akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslim, hanya karena kita pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. “Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan.” kata Abdullah bin Amr. (Hayat Al-Shahabah, II, 520-521)
Wallahu’alam bish showab…
Oleh. Ustaz Abu Jibriel
Selengkapnya...
Diposting oleh Kampoeng di 21.43 0 komentar
Label: heaven
LOWONGAN KERJA
Sabtu, 08 Agustus 2009Setiap pelamar dijamin pasti diterima di salah satu posisi yang disediakan, bahkan yang tidak melamar sekalipun pasti diterima !

LOWONGAN DISEDIAKAN UNTUK 2 POSISI :
A. Penghuni Syurga
B. Penghuni Neraka
UNTUK POSISI A DISEDIAKAN FASILITAS DAN KOMPENSASI SBB :

Sebelum kandidat diberi fasilitas final berupa Syurga yang kekal abadi, kandidat dijamin akan memperoleh training outdoor dan indoor, berupa :
1. Nikmat kubur.
2. Jaminan perlindungan di Padang Mahsyar.
3. Keselamatan meniti Sirath-al mustaqim.
Syurga memiliki berbagai kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Rasulullah bersabda, “Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (HR Muslim). Nikmat yang lebih indah dari syurga adalah ‘merasakan’ ridha Allah dan kesempatan merasakan ‘wajah’ Allah, inilah puncak segala kenikmatan, inilah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, yaitu keindahan menikmati sifat-sifat dan kalam murni Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
UNTUK POSISI B DIPASTIKAN AKAN MENIKMATI BERAGAM KESEMPATAN DIBAWAH INI:

Kandidat dipastikan mendapat berbagai fasilitas Neraka berupa alam terbuka dengan fasilitas pemanas ruangan yang bertemperatur sangat luar biasa panasnya. Bahkan bila sebutir pasir neraka dijatuhkan ke muka bumi maka mengeringlah seluruh samudera di muka bumi ini dan mendidihlah kutub es yang ada di muka bumi ini. Bahkan bila seseorang dikeluarkan dari dalamnya sekejab kemudian dipindahkan ke tumpukan api unggun yang menyala-nyala di muka bumi ini maka iapun akan merasa lega.
Neraka sangat luas, jadi para pelamar posisi ini tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat. Para pelamar posisi ini juga tak perlu khawatir segera mati kalau dibakar, karena tubuh kita akan dibuat sedemikian rupa hingga mampu memuai kalau dibakar (seperti kerupuk bila digoreng). Rasulullah saw bersabda, “Di neraka gigi seorang kafir akan (memuai) hingga sebesar gunung Uhud, dan (tebal) kulitnya membentang sejauh tiga hari perjalanan” (diriwayatkan oleh Abu Hurairah, HR Muslim). Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Neraka dipegang oleh tujuh puluh ribu tali, dan setiap talinya di pegang oleh tujuhpuluh ribu malaikat” M(HR Muslim). Rasulullah saw bersabda, “Allah mempunyai malaikat yang jarak antara kedua belah matanya adalah sepanjang seratus tahun perjalanan” (Abu Daud, Ibn Hanbal).
Oh, ya. Fasilitas ini juga meliputi makanan gratis yang mampu membakar isi perut, minuman yang mampu membocorkan usus serta fasilitas kolam renang gratis yang berisi nanah dan darah. Beberapa pembantu gratis juga disiapkan untuk menyayat lidah orang-orang yang suka menyakiti hati orang lain, maupun menyeterika perut orang-orang yang tidak membayar zakat.
Selain fasilitas tersebut, para kandidat akan melewati masa training yang lamanya mencapai ribuan tahun, yaitu :

1. Training indoor didalam kubur berupa siksa kubur dan ‘hidup’ dalam kesengsaraan ditemani ular dan makhluk aneh lainnya serta wajah-wajah buruk selama bertahun-tahun hingga ribuan tahun di alam barzakh tergantung kualitas amal ibadahnya dan dosa-dosa yang ia lakukan.
2. Training outdoor dilakukan di padang Mahsyar selama ribuan tahun, dalam suasana kepanikan dan huru-hara yang luar biasa. Bapak, ibu, anak dan saudara-saudara kita tak mampu menolong kita karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan para nabipun tidak mampu menolong, kecuali nabi Muhammad SAW yang akan menolong umatnya yang rajin bersholawat padanya.
SYARAT-SYARAT PELAMAR
- Tidak diperlukan ijazah
- Tidak diperlukan koneksi atau uang sogok.
- Tidak perlu bawa harta
- Tidak perlu berwajah cantik, ganteng, berbadan tegap atau seksi.
Cukup membawa dokumen asli dari keimanan dan amal karya Anda sendiri.
WAKTU WAWANCARA :
Wawancara tahap 1, dilakukan 7 langkah setelah pelayat terakhir meninggalkan kuburan Anda. Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya bila jenazah seseorang diletakkan di dalam kubur,maka jenazah itu mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburan pada saat mereka meninggalkan tempat itu (hadist hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Hanbal). Perlu diketahui jadwal wawancara Anda ini sudah ditentukan sejak roh ditiupkan ke tubuh Anda semasa dalam kandungan ibu.
Wawancara tahap 2 : Hanya Allah lah yang tahu.
LOKASI DAN LAMA WAWANCARA
Wawancara tahap I, dilakukan di dalam kubur (alam barzakh) selama beberapa menit hingga ribuan tahun tergantung posisi yang dilamarnya.
Wawancara tahap II, dilakukan pada hari penghisaban (hari perhitungan) selama beberapa hari hingga ribuan tahun tergantung posisi yang dilamarnya. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah pernah bersabda bahwa jarak waktu masa pengadilan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin adalah 500 tahun. Berbahagialah Anda yang miskin selama di dunia, yang memiliki sedikit harta untuk diminta pertanggungjawabann ya (karena sebutir nasi yang Anda buang akan diminta pertanggungjawabann ya).
PEWAWANCARA:
Wawancara tahap I, dilakukan oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.
Wawancara tahap II, dilakukan langsung oleh sang Penguasa Hari Kemudian
WAWANCARA HANYA BERISI 6 PERTANYAAN :
1. Siapa Rabbmu ?
2. Apa Dienmu ?
3. Siapa nabimu?
4.. Apa kitabmu?
5. Dimana kiblatmu ?
6. Siapa saudaramu?
Sungguh 6 pertanyaan yang sangat mudah, tapi sayangnya tidak bisa dihapal dari sekarang karena keimanan dan amal kitalah yang akan menjawabnya.
CARA MELAMAR:
Sekalilagi, ini benar-benar rekrutmen yang sangat istimewa, tidak perlu melamar, siapa saja dijamin diterima, bahkan untuk melamarpun Anda akan dijemput secara khusus. Dijemput oleh makhluk sekaliber malaikat yang bernama Izroil. Ia akan menjemput anda kapan dan dimana saja (bisa jadi sebentar lagi).
BENARKAH LOWONGAN INI ?
Simaklah hadits dibawah ini, sesungguhnya terlalu banyak rahasia alam ini yang tidak mampu kita ketahui, apalagi mengenai akhirat.
Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tak sanggup kalian lihat. Kudengar suara gesekan dilangit (berkriut-kriut) , langit sedemikian padatnya, tak ada tempat kosong bahkan seluas empat jari sekalipun karena langit dipenuhi para malaikat yang sedang bersujud kepada Allah SWT. Demi Allah ! Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang akhirat), niscaya kalian tidak akan pernah tertawa sedikitpun, bahkan kalian pasti akan banyak menangis (karena takut). Dan niscaya kalian tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian, dan niscaya kalian akan keluar berhamburan ke jalan-jalan (berteriak) untuk memohon (ampun) dan memanjatkan doa kepada Allah (meminta perlindungan dari bencana akhirat) yang akan Dia timpakan” ( HR Tirmidzi & Al-Bukhari)
Sementara jutaan Malaikat dengan penuh rasa takut dan hormat sedang bersujud kepada Allah, dan sementara Malaikat peniup Sangkakala sudah siap di depan trompetnya sejak alam ini diciptakan, sementara itu pula masih banyak diantara kita yang masih terlena dengan dunia ini. Tidak sadar ia bahwa dirinya sedang masuk dalam program penerimaan lowongan yang ada di akhirat.
Mudah saja, hiduplah sesuka anda…

Selengkapnya...
Diposting oleh Kampoeng di 23.00 0 komentar
Label: heaven
















